Program Creative Youth at Indonesian Heritage Sites sebuah kolaborasi UNESCO Jakarta dan Citi Indonesia saat ini sedang melanjutkan Fase IV di tahun 2021. Program yang dikenal pula dengan nama "Kita Muda Kreatif" ini, di tahun 2021 menargetkan 300 wirausaha muda yang tinggal di sekitar kawasan budaya atau alam ternama, yaitu Danau Toba, Borobudur, Prambanan, Klaten, Yogyakarta, Kotatua Jakarta, Bali, dan Lombok. Lebih dari 50% para wirausaha muda ini adalah perempuan.

Program ini memberi dukungan pada wirausaha muda perempuan di kawasan-kawasan tersebut, dengan cara meningkatkan kapasitas mereka dalam mengembangkan industri kreatif dan melestarikan warisan budaya tak benda melalui wilayah bisnis, seperti pariwisata budaya, tekstil tradisional, dan kerajinan tangan.

Sekitar 22% dari total seluruh penerima manfaat program ini adalah para penenun perempuan dari Nusa Tenggara Barat dan Sumatera Utara, yang secara rajin dan tekun melestarikan keterampilan dan produksi tenun tradisional.

Hans Thulstrup, Officer-in-Charge, UNESCO Jakarta mengatakan meskipun Hari Perempuan Internasional dirayakan setiap tahunnya, tetapi kerja keras dan pencapaian kaum perempuan tidak selalu mendapatkan perhatian yang layak mereka terima.

"Ketidakadilan ini terus berlanjut ke dunia politik, lembaga bisnis dan akademis, serta di bidang seni dan budaya. Di Indonesia dan seluruh dunia, banyak perempuan yang menjadi pemimpin dan penggerak berbagai kegiatan budaya di mana mereka menghasilkan banyak invasi dan pencapaian," ujar Hans Thulstrup.

Puni A. Anjungsari, Country Head of Corporate Affairs, Citi Indonesia menambahkan, program Kita Muda Kreatif, merupakan sebuah program yang didedikasikan untuk Indonesia. Salah satu keistimewaan program ini adalah mengangkat prinsip keberagaman. Diantaranya keberagaman peserta, kultur dan budaya, serta upaya pelestarian situs warisan dunia.

"Keberagaman merupakan kunci kekuatan dari Indonesia yang patut kita banggakan. Dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para wirausaha muda kreatif, dengan mengangkat para pengrajin penenun perempuan atas upayanya dalam melestarikan budaya bangsa dan tetap tangguh dalam masa sulit ini terutama untuk sektor pariwisata.” papar Puni A. Anjungsari.

Bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional tahun ini, UNESCO Jakarta dan Citi Indonesia dengan dukungan Citi Foundation turut merayakan pencapaian para penenun perempuan Indonesia.

Sartika Martilova Sihombing, seorang perempuan penenun ulos dan pemilik Soit Tenun Ulos dari Tapanuli Utara, Toba, mengisahkan pandemi Covid-19 merupakan tantangan yang berat.

Dikatakannya awal pandemi dirinya sempat pesimistis bisa bertahan sebagai penenun ulos, karena pesanan tenun ulos turun drastis. Setelah beberapa bulan masa pandemi, dia mulai bangkit dan semangat lagi. Salah satu yang membuat semangat bertenun kembali adalah pendampingan program Kita Muda Kreatif dari UNESCO-Citi Indonesia.

"Ketika mengikuti berbagai pelatihan daring, saya melihat ternyata bukan hanya saya yang terdampak Covid-19, teman-teman para wirausaha muda lain juga ikut terdampak. Dari situ kami saling berbagi informasi dan bertukar pengalaman tentang cara untuk tetap bertahan,” tutur Sartika dalam siaran pers, Rabu (24/3/2021).

Sementara itu di lain tempat, Sri Hartini, Ketua Kelompok Nina Penenun dari Pringgasela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, berharap UNESCO bisa membantu meregenerasi penenun yang ada di Desa Pringgasela Selatan. Dengan berbagai pelatihan yang dapat meningkatkan kapasitas anak muda di bidang tenun, dirinyai yakin kami akan bisa mempertahankan budaya menenun di sini.