Creative Youth at Indonesian Heritage Sites secara resmi akan mengakhiri Fase 3 di bulan November 2020. Program yang lebih dikenal dengan nama Kita Muda Kreatif ini menyasar 400 wirausaha muda yang berada di kawasan Situs Warisan Dunia atau destinasi wisata seperti Danau Toba, Borobudur, Prambanan, Klaten, Yogyakarta, Kota Tua Jakarta, serta Denpasar dan Tabanan di Bali.

Selama pelaksanaan Fase 3 tahun ini, wirausaha muda yang berasal dari berbagai sektor industri kreatif terlibat dalam berbagai kegiatan peningkatan kapasitas kewirausahaan serta peningkatan pemahaman mengenai warisan budaya. Ini untuk meningkatkan kemampuan bisnis mereka, dengan memanfaatkan sumber daya dari warisan budaya lokal.

Pencapaian proyek dan hasil-hasil karya para wirausaha muda ditampilkan live secara virtual pada Gelar Karya Kreatif, Kamis (26/11).

Selama pandemi COVID-19, program ini memberikan dukungan kepada wirausaha muda, dengan menggelar lebih dari 90 pelatihan daring melalui WhatsAppZoom, dan YouTube antara Maret hingga November 2020.

Tema-tema pelatihan yang diberikan meliputi pengembangan produk, literasi keuangan, perencanaan bisnis, pemasaran dan jenama; serta latar belakang sejarah dan nilai situs warisan, dan penguatan jejaring dengan pihak-pihak pemerintah, kalangan bisnis profesional, pakar-pakar warisan budaya, serta para pengusaha retail.

Survei internal yang dilakukan pada November 2020 menunjukkan bahwa program ini mendukung terciptanya lebih dari 200 jenama wirausaha muda lokal yang terinspirasi dari budaya setempat. Selain itu hampir 25% dari mereka mengalami peningkatan pendapatan dan 30% dari wirausaha muda ini berhasil mengembangkan produk baru.

Perluasan Jaringan Wirausaha Muda

Pada 2021, proyek ini diyakini terus mendorong pemberdayaan wirausaha muda serta akan memperluas kegiatannya hingga ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, demi mendukung lebih dari 50 penenun muda. Tujuannya, meningkatkan taraf hidup dan pendapatan mereka sambil terus melestarikan tenun tradisional.

“Rangkaian sesi pelatihan yang disampaikan selama ini sangat berguna. Program ini tidak hanya membantu saya meningkatkan citra produk dan jenama saya, tetapi juga secara terus menerus jadi sumber inspirasi,” ujar Cemplon Sebastian, pemandu muda dari Borobudur yang juga mengembangkan merek minuman jamu baru dalam rangka merespons pandemi.

“Kelas-kelas pelatihan memberi saya pengetahuan dan energi tambahan untuk mengembangkan bisnis baru. Produk jamu baru saya Wedang Rempah Borobudur adalah buktinya. Saya senang dengan bisnis baru ini saya juga dapat membantu masyarakat desa Karangrejo, tempat saya tinggal.” 

Hal senada diungkap Anastasya Charles Angel Simanjuntak, pemilik ACAS Mode dari Sipoholon, Tapanuli Utara di wilayah Toba. “Mengikuti program ini tidak hanya meningkatkan pendapatan usaha saya di sektor fesyen, tapi juga pengetahuan saya tentang sejarah dan filosofi kain ulos,” tuturnya.

Sementara itu, Director and Representative of UNESCO Office di Jakarta Shahbaz Khan mengungkapkan, program Kita Muda Kreatif sengaja dirancang untuk mendukung peningkatan kapasitas bisnis para wirausahawan muda dalam berbagai aspek. Mulai dari kewirausahaan, literasi keuangan, hingga dukungan jenama. 

‘Kami mendorong generasi muda untuk berkolaborasi satu sama lain, dan kami berharap mereka makin mengenal budaya mereka dan menjadikannya sebagai inspirasi,” kata dia.