UNESCO Jakarta dan Citi Indonesia merayakan pencapaian perempuan penenun Indonesia pada Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 23 Maret 2021. Sederet kisah inspiratif para perempuan penenun di Indonesia ditampilkan via live streaming.

Di tengah pandemi Covid-19, perempuan penenun menghadapi tantangan yang berat. Sartika Martilova Sihombing, seorang perempuan penenun ulos dan pemilik Soit Tenun Ulos dari Tapanuli Utara, Toba, berbagi pengalamannya.

Pada awal pandemi Covid-19, ia sempat merasa pesimistis bisa bertahan sebagai penenun ulos. Pesanan tenun ulos ketika itu turun drastis.

Namun, hal itu hanya berlangsung beberapa bulan saja. UNESCO dan Citi Indonesia memberikan pelatihan kepada penenun.

“Lewat pelatihan daring ini kami akhirnya bertukar pengalaman dengan perempuan penenun Indonesia lainnya dan bisa bertahan dengan usaha kami,” ujarnya, dalam siaran pers, Rabu (24/3/2021).

Hal serupa juga dirasakan Sri Hartini, Ketua Kelompok Nina Penenun dari Pringgasela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Ia berharap UNESCO bisa membantu regenerasi penenun yang ada di Desa Pringgasela Selatan.

Kelompok Nina Penenun juga berkomitmen untuk melestarikan tenun yang ada di Pringgasela. Tindak nyatanya kami mengajari anak-anak kami di Pringgasela Selatan untuk menenun melalui sekolah tenun.

“Para ibu-ibu anggota kami sosialisasikan untuk mengajari anak-anaknya menenun. Kami yakin dengan program-program yang kami lakukan kelestarian tenun yang ada di Desa Pringgasela Selatan dapat terjaga,” ucapnya.

Menurut Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Irini Dewi Wanti, penenun perempuan adalah penjaga budaya, dalam keadaan krisis pun ia akan tetap menenun.

“Karena sebagai seniman ia akan tenggelam dalam dunianya, seberapa pun hasil yang diterima maka itu yang mereka jalani, selanjutnya adalah tugas kita membantu menyejahterakan mereka,” tuturnya.

Officer-in-Charge, UNESCO Jakarta, Hans Thulstrup, mengatakan di Indonesia dan seluruh dunia, banyak perempuan yang menjadi pemimpin dan penggerak berbagai kegiatan budaya. Mereka menghasilkan banyak inovasi dan pencapaian. Tenun tradisional adalah salah satu bidang di mana pengetahuan berharga diwariskan dari para ibu ke anak-anak perempuan mereka secara turun-temurun.

“Saat ini, sektor tenun tradisional ini bertahan berkat generasi perempuan muda Indonesia yang dinamis, yang memadukan kreativitas artistik dengan keterampilan bisnis,” kata Hans.

Sementara, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia Puni A. Anjungsari menambahkan dalam rangka merayakan Hari Perempuan Internasional, apreasiasi diberikan kepada para wirausaha muda kreatif, dengan mengangkat para perempuan penenun Indonesia atas upayanya dalam melestarikan budaya bangsa dan tetap tangguh dalam masa sulit ini terutama untuk sektor pariwisata.