KAIN tenun menjadi warisan tak benda yang diakui UNESCO. Di masa pandemi ini, para penenun pun merasakan dampak luar biasa karena pendapatannya menurun.

Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Irini Dewi Wanti, SS., M.SP mengatakan, penenun atau lebih dikenal dengan nama "Partonun" di Tapanuli adalah seniman. Mereka adalah pekerja seni, jadi bukan hanya mengurusi ekonomi keluarga, tapi juga mewarisi budaya.

"Partonun bekerja demi kelangsungan warisan mahakarya nenek moyang, menjaga filosofi hidup orang Batak, serta kemahiran tradisional yang tidak semua orang dapat melakukannya," ujarnya lewat keterangan resmi Kita Muda Kreatif dari UNESCO-CITI Indonesia.

Karenanya Partonum Perempuan adalah penjaga budaya. Dalam masa krisis apapun, dia akan tetap bertenun, karena sebagai seniman ia akan tenggelam dalam dunianya.

Seberapapun hasil yang diterima maka itulah yang mereka jalani, selanjutnya adalah tugas kita membantu menyejahterakan mereka," imbuhnya.

Perempuan penenun ulos Sartika Martilova Sihombing dari Tapanuli Utara, Toba, mengungkapkan, pandemi Covid-19 merupakan tantangan yang berat. Awal pandemi, ia sempat pesimis bisa bertahan sebagai penenun ulos, karena pesanan tenun ulos turun drastis.

"Setelah beberapa bulan masa pandemi, saya mulai bangkit dan semangat lagi. Salah satu yang membuat semangat bertenun saya kembali adalah pendampingan," ujarnya.

Ia mengikuti berbagai pelatihan daring. Pengalaman ini pun tak hanya dirasakan sendirian, melainkan banyak penenun lain  terdampak Covid-19. Ya, para wirausaha muda lain juga ikut terdampak.

"Dari situ kami saling berbagi informasi dan bertukar pengalaman tentang cara untuk tetap bertahan," imbuh pemilik Soit Tenun Ulos itu.