Berbagai gelaran karya  batik dari penjuru nusantara, ditampilkan dalam peringatan hari Batik Nasional, yang diadakan Citi Indonesia dan UNESCO Jakarta di bawah dukungan Citi Foundation,secara virtual karena masih dalam masa pandemi Covid-19. Perayaan ini ditayangkan langsung melalui Instagram dan Youtube dengan kanal Kita Muda Kreatif, pada Jumat (2/10/2020) sore.

Selain gelaran batik, juga diadakan temu  wicara perajin batik tulis, sesi mengenai  batik warna alam yang  ramah lingkungan, serta pertunjukan seni tari dan musik yang dipersembahkan oleh para seniman muda dari Yogyakarta dan Kotatua Jakarta.

Country Head of Corporate Affairs, Citi Indonesia, Puni A. Anjungsari menyampaikan, Citi Indonesia dibawah payung kegiatan kemasyarakatannya, Citi Peka (Peduli dan Berkarya), selalu berupaya untuk memberikan kontribusi yang nyata pada komunitas di mana kami beroperasi.

Pihaknya bangga dapat mendukung program "Creative Youth at Indonesian Heritage Sites" karena program ini mendukung upaya pelestarian budaya Indonesia, sekaligus memberikan kesempatan ekonomi lebih baik bagi generasi muda. Hal ini juga sejalan dengan misi Citi secara global untuk mengembangkan kesempatan kerja dan berkarya para generasi muda  di dunia yang di sebut Pathways to Progress.

Dikatakan, dengan  investasi sebesar lebih dari IDR 500 milliar di Asia Pasifik, Citi Foundation akan membantu  generasi muda yang berpenghasilan rendah dalam hal penyediaan 6.000 lapangan kerja dan juga 60.000 kesempatan pelatihan.

Prof Shahbaz Khan, Director and Representatives of UNESCO Jakarta, dalam sambutannya mengatakan, batik Indonesia adalah sebuah hasil kerajinan tangan tradisional, yang memiliki nilai budaya tinggi. Membatik adalah keterampilan yang diturunkan dari generasi ke generasi, baik di Jawa maupun wilayah lain di Indonesia, sejak awal abad ke-19.

Teknik, simbol, dan budaya yang melingkupi kain katun dan sutra yang ditorehkan serta diwarnai dengan tangan pada batik Indonesia,  mencerminkan kehidupan orang Indonesia dari awal hingga akhir.

Meski dicanangkan sebagai warisan nasional, batik juga jadi bagian kebudayaan abad ke-21 dan telah mendukung mata pencaharian sekelompok besar masyarakat di Indonesia. Hal tersebut kemudian menginspirasi lahirnya  kreativitas-kreativitas baru dan inovasi teknologi. Di berbagai daerah di Indonesia, pengenalan beragam motif Batik meningkatkan peluang ekonomi melalui diversifikasi ragam corak Batik yang tersedia.

Selama pandemi Covid-19, para  pembatik pun menjajaki peluang pasar baru dengan membuat masker dari Batik.  Selain itu, teknik pewarnaan batik secara alami juga telah menjadi fokus studi ilmiah untuk mengeksplorasi keberadaan industri tekstil yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

"Tidak seperti cagar budaya atau monument, warisan budaya tak benda, seperti Batik, selain membutuhkan upaya konservasi teknis dari para ahli berikut kajian ilmiahnya, juga membutuhkan upaya manusia sekelilingnya untuk bisa terus lestari," kata Shahbaz.

 Ia berharap melalui perayaan hari batik ini, Indonesia bisa terus bersama melestarikan warisan budaya.

Sementara itu, dalam sambutan tertulis Direktur Jenderal Kebudayaan yang disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia, Sri Hartini, disampaikan, penghargaan dan pengakuan dunia internasional terhadap batik, mengamanatkan masyarakat dunia termasuk masyarakat Indonesia, untuk secara optimal melestarikan batik dalam bentuk perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya, untuk kesejahteraan hidup manusia merupakan tugas bersama pemerintah, masyarakat, dan institusi swasta maupun non-pemerintah.

"Semoga di Hari Batik Nasional 2020 ini, menjadikan batik sebagai kebanggaan bangsa Indonesia dan menjadikan identitas yang mengangkat martabat masyarakat dan bangsa Indonesia," katanya.