Masa pandemi covid-19 yang membuat kita di rumah saja, tapi tidak menutup kemungkinan untuk tetap belajar seperti  mengenal tentang situs sejarah warisan dunia yang ada di Indonesia. 

Sehubungan dengan kegiatan virtual yang sudah berlangsung dan dalam rangka memperingati Hari Warisan Dunia yang jatuh pada 18 April lalu, serta untuk ikut memaknai perayaan ini maka diselenggarakan beberapa kelas yang telah dibuka untuk umum, selama tanggal 18-22 April, yang berisi sesi pengenalan tentang Situs Warisan Dunia yang di Indonesia seperti Borobudur, Prambanan, Sangiran, Ombilin Sawahlunto dan Bali.

Narasumber dalam mengisi kelas online sejarah tersebut diisi oleh Iwan Setiawan Bimas dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

Adapun kegiatan kelas ini telah dilaksanakan pada hari Sabtu, 18 April 2020 lalu.

Dalam pembahasannya, Sangiran merupakan manusia purba hominid yang secara ilmiah masuk ke dalam klasifikasi Homo erectus.

Dalam taksonomi, Homo erectus adalah salah satu spesies dari genus Homo. Spesies lainnya yang tentu kita kenal adalah Homo sapiens.

Jika Homo erectus adalah Manusia Purba, maka Homo sapiens adalah Manusia Modern.

Dilihat dari masa hidupnya, Homo sapiens hidup lebih kemudian dibandingkan Homo erectus.

Kemunculan tertua Homo erectus berasal dari masa 1,8 juta tahun yang lalu di Afrika. Dan “menghilang” di bumi ini pada sekitar 150.000 tahun yang lalu.

Melihat ke belakang, ciri “kemanusiaan” telah muncul jauh sebelum masa Homo erectus , dengan ditemukannya fosil Australopithecus berusia 3,9 juta tahun silam.

Australopithecus afarensis atau terkenal dengan Lucy sudah menjejakkan langkah ke permukaan bumi. Mereka telah melakukan bipedalism, atau berjalan dengan 2 kaki.

Setelah Australopithecus menghilang, muncul Homo habilis yang semakin memperlihatkan ciri kemanusiaannya dengan penciptaan budaya pertamanya, Budaya Oldowan, perkakas khas dari Lembah Olduvai.

Setelah Australopithecus dan Homo habilis punah, muncullah Homo erectus sekitar 1,8 juta tahun yang lalu di Afrika. Mengapa Homo erectus istimewa? 

Homo erectus adalah pengembara pertama di dunia. Dia mampu “keluar” dari Afrika, setelah 2 generasi pendahulunya, Australopithecus dan Homo habilis hanya hidup di bumi Afrika.

Lalu mengapa Sangiran bisa masuk ke situs warisan dunia UNESCO? Nah, kali ini bisa dikatakan bahwa Sangiran sudah memperlihatkan kepada kita bukti-bukti evolusi yang pernah terjadi berdasarkan Lingkungan, manusia, budaya dan manusia.

Alam selalu berubah. Secara perlahan dan berlangsung jutaan tahun lamanya. Dari Lingkungan laut berubah menjadi rawa. Dari rawa berubah menjadi daratan (hutan dan sabana).

Selama lebih dari 1 juta tahun hidup di Sangiran, Homo erectus¬ telah mengalami 2 tahap perkembangan fisik. Dan 1 tahap perkembangan lagi jika kita melihat ruang geografis yang lebih luas lagi.

Selama 1,3 juta tahun Homo erectus hidup di Jawa, mereka telah berevolusi secara fisik menjadi 3 tipe, yaitu tipe arkaik, tipik, dan progresif.

Tipe arkaik dan tipik berkembang ketika Homo erectus hidup di Sangiran, sementara tipe Progresif berkembang ketika mereka hidup di sepanjang aliran Bengawan Solo.

Hingga saat ini, tidak kurang 100 individu Homo erectus telah ditemukan dari bumi Sangiran. Dan itu berarti Sangiran telah berkontribusi menyumbang 50% populasi temuan Homo erectus di dunia.

Oleh sebab itu, Situs Sangiran sangat pantas mendapat pengakuan UNESCO sebagai situs kunci untuk pemahaman evolusi manusia.